2
Senada Harus Menentukan Sikap Jika Tak Mau Disebut Band Musiman
Oleh: fresh caré 
Perimetalk 0,4
11 Oktober 2021

Waktu itu, hari tidak berlalu seperti biasanya. Lama terendam dalam kungku hiruk pikuk kesibukan, Senada akhirnya bangun dari hibernasinya. Di jam-jam tanggung, Julian menerima sebuah pesan dari Erwin (panitia Proudphere) dan menyiarkan kabar bahwa Senada menyabet salah satu predikat 5 besar Best Band di acara tersebut. Kabar gembira ini disambut hangat oleh Pregnant Pause family selaku pihak yang memboyong Senada.

Dari 15 musisi Kota Solo yang diangkat, satu persatu mulai berguguran dan hanya Senada yang bertahan hingga garis akhir. Ini sungguh sebuah pencapaian besar atas kerja keras mereka. Kini, dengan kiprah barunya, tidak afdol rasanya jika kita tidak mengenal siapa itu Senada. Let’s take a breath and read this timeline.

Senada dan dirinya

Perjalanan Senada dimulai sejak bertemunya dua laki-laki satu kelurahan yang sama-sama memiliki kemampuan dan ketertarikan bermusik. Dua laki-laki itu, Edo Rivai dan Julian Rinaldi mulai berkolaborasi sejak tahun 2007 ketika keduanya masih mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Awalnya, Senada bukanlah Senada. Kok begitu? Begini… 

Tiga tahun setelah pertemuan Edo dan Julian, kemudian mereka melahirkan sebuah nama band, Solid Stage (2010). Dengan penambahan gitaris Dodo Sukma dan additional vokalis, tahun 2012 band ini berganti nama menjadi Starry Night.

Hingga pada akhirnya tahun 2014, band beraliran pop-rock ini memulai debut karir terbarunya dengan nama Senada yang dibakukan dan digunakan sampai saat ini. Pasang surut berlalunya para personil Senada yang mampir dan kemudian melipir sempat membuat laju band ini terseok. Formasi baru terbentuk, fourth combo yang beranggotakan Edo, Julian, Rido dan Sandi berhasil menetaskan dua single pertama mereka, Blur dan Indah. Namun, beberapa bulan setelah peluncuran single, Rido hengkang dari Senada.

Gejolak dan inkonsistensi memang seringkali menjadi permasalahan umum yang banyak dialami para musisi. Diusianya yang masih muda, Senada memutuskan vakum setelah menggemakan karya perdana mereka, dengan alibi prioritas kesibukan karir dan pendidikan. Masa hiatus Senada dimulai tahun 2014 dan berakhir ditahun 2017 dengan gebrakan rilisan album pertama mereka.

Rupanya, selang waktu rehat Senada digunakan untuk menumpuk lumbung materi album pertama yang disebut album ke-nol dan dicetak secara fisik sebanyak 150 copy. Menariknya lagi, dari proses produksi lagu, pembuatan album fisik, dan publikasi dilakukan oleh para personil Senada secara independent tanpa berpijak pada label rekaman manapun. Meskipun nama Senada belum dikenal banyak orang dan panggilan manggung masih sepi tak terbendung. Memberanikan diri untuk berkarya dan membagikannya dengan cara yang mereka bisa menjadi upaya jitu untuk merakit cerita dan asa. Lalu setelah tahun itu, Senada kembali merilis single Tolong Kembalikan Hari Ceriaku Yang Dulu (2018), Lonely Lied – demo version (2019) dan sedang mempersiapkan album kedua mereka.

Bermain gaple

Senada terbilang cukup dinamis. Dalam kondisi pasang surut pergantian personilnya, Senada masih memiliki tenaga untuk bangkit kembali. Dengan kecakapan Julian dalam menarasikan lirik ditambah dengan kepiawaian Edo mengkomposisikan lagu, tentu tidak butuh waktu lama bagi mereka menciptakan karya-karya baru untuk dikenal. Tapi pertanyaannya, kemana saja Senada selama ini hingga tak tercium nafas kehidupannya?

Baru setelah Proudphere dua bulan lalu, nama Senada boom dan lebih dikenal di skena musik Solo. Peristiwa ini bukan tak mungkin menjadi pemicu merangkaknya eksistensi Senada dalam industri musik dengan melihat event Proudphere Djarum memiliki massa dan peminat cukup massive. Pasalnya juga, bukan hanya satu dua band yang berhasil dilibas, melainkan puluhan band dengan keunikan dan karakter musikal yang berbeda-beda.

Jadi heran, kenapa Senada mampu menduduki 5 klasemen teratas Best Band. Tapi bukan hanya saya yang bingung, nampaknya kebingungan ini juga menyelimuti personil Senada karena peristiwa kemenangan atas Proudphere terbilang unbelieveable. Sempat merasa insecure, tapi buktinya Senada tampil percaya diri saat berkolaborasi dengan Ray Prasetya. Supercoach Proudphere juga menyebut bahwa Senada serasa band yang sangat rajin latihan. Apalagi dikata para kawan-kawan bahwa beberapa lagu Senada akan ada yang berumur Panjang, seperti Rock n’ Rolll Huhu dan Dian. Bisa dibilang kalau Senada cukup bisa diperhitungkan lho.

Fenomena seperti ini juga pernah terjadi pada band Kaisar, setelah meraih predikat juara I “Festival Rock Se-Indonesia ke-6” yang dipromotori oleh Log Zhelebour tahun 1991. Band asal Solo ini mulai dikenal secara jamak di blantika musik Indonesia tahun 80-90’s dan melejit setelah kemenangannya kala itu. Salah satu lagu favorit penggemarnya adalah Kerangka Langit, yang dibilang karakter rock-nya begitu melekat dengan Kaisar.

Dari kemenangannya, Kaisar mendapat privilege berupa kesempatan produksi rekaman di bawah naungan Logiss Records. Namun, album perdana Kaisar direspon dengan penuh kekecewaan oleh para penggemarnya karena dinilai ‘bukan Kaisar banget’. Penjualan album yang rendah mempengaruhi stabilitas band ini dan kesibukan masing-masing personil membuat kejayaan Kaisar berhenti begitu cepat setelah mengeluarkan album Mulut Angin.

Terbit lalu terbenam atau terbit lalu bersinar, mengikuti jejak d’Masiv yang sukses lewat kompetisi A Mild Live Wanted tahun 2007 silam dan sekaligus memuluskan jalan d’Masiv menuju rekaman dan produksi album. Band ini sukses mengalahkan 3.000 grup band lain dan kini namanya dikenal secara massive di Indonesia. Karya mereka terdengar dimana-mana dan konsistensi yang masih dijaga dengan baik.

Kini, Senada tinggal menentukan pilihan, karena hal serupa bukan tidak mungkin bisa terjadi pada Senada nantinya baik dari kemungkinan terbaik hingga terburuknya. Mengutip pernyataan mendiang Aria Baron, gitaris eks Gigi.

“Hanya yang memiliki talenta dan jujur dalam bermusik yang akan meraih sukses”

Musikalitas yang dimiliki oleh masing personil Senada terbilang cukup bagus dan sama-sama kuat. Karya yang dihasilkan cukup relatable dengan kejujuran penciptanya menuangkan kisah ke dalam bentuk lagu. Meskipun akord lagu yang progressive tetap saja mudah ditebak dalam beberapa lagu ciptaannya. Senada bisa dikatakan cukup bertalenta dan layak berada di 5 Best Band Proudphere karena keunikkannya. Tidak ada masalah dengan itu, justru yang membuat gemas adalah sikap Senada dalam menentukan langkah di masa keemasaannya saat ini.

Saat ditemui dalam sesi interview (04/10/2021), Edo mengatakan bahwa kesibukan membabat habis waktunya untuk mengurus pergerakan Senada. Sedangkan Julian merasa tidak memiliki keinginan apa-apa dan tidak berharap banyak, karena baginya harapan akan selalu melekat pada keinginan-keinginan dan ekspektasi.

Statement personil Senada terkesan tak punya pilihan. Mereka bersikap untuk tidak punya visi dan misi, itu boleh dan sah-sah saja. Tapi kemudian apakah itu cocok dalam industri dan bisnis? Ini akan menjadi problem baru bagi Senada kedepannya.

Pada awalnya, memang Senada hanya berorientasi pada kreatifitas dan kebebasan dalam berkarya. Namun, jika motivasi Senada hanya fokus untuk berkarya tanpa memikikan profit, sangat disayangkan mengingat eksistensi band ini sudah mulai naik dan dilirik investor.

Idealis tapi tanggung. Momen Proudphere yang menaikkan eksistensi Senada seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membombong massa. Semakin ia dikenal, semakin ia dilirik. Senada harus bisa menentukan sikap, jika tak mau disemat sebagai seniman kambuhan. Dan pada akhirnya, Senada mau tak mau harus tenggelam dalam hegemoni industri. Melunakkan rasa idealis mereka demi keberlangsungan umur band mereka. Terkadang, sesuatu berjalan menuju kekalahan atau kemenangan tanpa adanya perlawanan. Senada seperti bermain gaple atau domino, dalam setiap ronde yang dimainkan, terjatuh berkali-kali namun harus tetap bangkit. Eksistensi bisa mendorong kita untuk naik level atau justru mendorong kita untuk terjatuh lebih jauh.

Kabar lainnya, dalam babak lanjutan nanti, Senada memantapkan diri menjadi band dengan dua personil saja dan bersiap diri untuk merombak wujud mereka. Seperti kata Julian bahwa manusia akan berkembang, berproses, berubah sepanjang waktu, inilah proses manusia sebagai manusia dan inilah proses yang harus dijalani oleh Senada. Sembari menunggu album ketiga yang tengah diracik, sembari menunggu gebrakan apalagi yang akan dipetik.