Rockin Solo 1
Rock in Solo Dalam Balutan Apokaliptika
Oleh: Denis Setiaji
Foto: Ardy Cahyo - Pregnant Pause Records
Perimetalk 0,5
12 Januari 2022

Ini adalah sebuah tulisan yang mengulas satu momentum penting dalam sejarah skena musik Kota Bengawan. Salah satu wahana perhelatan musik rock yang cukup prestisius dalam skala nasional, yang pertama kali digelar tahun 2004, ya, Rock in Solo. Setelah hiatus selama kurang lebih 6 tahun, Tirtonadi Convention Hall menjadi saksi momentum lahirnya kembali dari gelaran yang di cukup dielu-elukan pencinta musik cadas tanah air pada 18 Desember 2021. Ada nuansa dan warna berbeda dari gelaran Rock in Solo terkini. Selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat, penontonpun hanya dibatasi sejumlah 500-an orang dan harus puas menikmati gelaran musik metal dari atas kursi. Tidak hanya itu, konsep acara dibuat dalam bingkai kolaborasi antar musisi metal dengan seniman Solo lintas genre dan disiplin. Dengan mengusung tema Apokaliptika: Journey of Rock in Solo, seakan memberikan sebuah simbol dari bangkitnya sebuah era baru, menutup lembaran lalu, membuka lembaran yang baru atas perjalanan festival musik cadas kebanggaan Kota Bengawan itu.

Story of Apokaliptika

Sabtu 18 Desember 2021, Sore itu cuaca cukup bersahabat, walaupun Solo sempat gerimis namun, tak membuat pengendara sepeda motor melindungi tubuhnya menggunakan mantol. Begitupun suasana di sekitar Tirtonadi Convention Hall, hilir mudik bis AKAP di bawahnya disambut dengan cuaca yang sendu dan syahdu. Area foodtruck di depan serambi Tirtonadi Convention Hall mulai ramai oleh para penonton -sudah merindu cukup lama    gelaran Rock in Solo- sambil menunggu preparasi registrasi dan juga swab antigen sebagai bagian dari SOP sebelum memasuki gedung oleh tim satgas covid Kota Solo. 18.15 WIB, penonton  mulai mengantri, sebagian besar mengantri untuk swab, sebagian lagi yang telah melakukannya segera masuk melalui serambi depan Tirtonadi Convention Hall dengan pendampingan panitia. Saat memasuki lobby gedung, penonton langsung disuguhkan dengan beberapa booth sponsor resmi dari gelaran Rock in Solo tahun ini. 

19.50 WIB, Close Gate, pembukaan dari Rock in Solo “balutan konsep baru” dimulai. Masuklah dua pembawa acara dengan sebutan MC Biasa, menyambut hangat penonton, memberikan sejumlah rules didalam pertunjukan, “penonton dilarang berdiri”, “dilarang merokok baik konvensional maupun elektrik”, begitulah dua petikan aturan yang harus dipatuhi para penonton. Ada yang sedikit menggelitik yakni tulisan pada kaos yang digunakan oleh MC Biasa, satu bertuliskan ST 12, satu lagi bertuliskan Wali. Mungkin gimmick ini digunakan sebagai salah satu teknik komedi dengan mengkontraskan selera musik penonton metal dan pop “inbox”.  Selain itu MC membeberkan sedikit mengenai perjalanan Rock in Solo dari mulai merintis di tahun 2004 hingga sekarang sebagai festival metal yang sangat diperhitungkan. Sejumlah pengisi dan seniman yang berkolaborasi dalam gelaran Rock in Solo –sebagai pre-event Rock in Solo dalam format festival di tahun depan- adalah Down For Life, yang menggaet beberapa vokalis di antaranya Lius Tendangan Badut, Albi Moreno MCPR, Pintus Bandoso, Djiwo Djiwoastro, Kokom Paranoid Despair, DD Crow, serta beberapa musisi lintas genre dan seniman Solo seperti Gondrong Gunarto, Endah Laras, Agus Mbendol, Wawin Laura, Doel Pecas Ndahe, dan Titus. Saat melihat kedepan panggung, penonton akan disuguhkan dengan setting instrumen metal yang di kiri-kanannya terdapat perangkat gamelan, kanan panggung adalah gamelan Sekaten yang masuk dalam kategori pakurmatan, sedangkan dikiri panggung ada gamelan angklung Banyuwangen, sebuah pemandangan yang cukup tidak biasa dalam sebuah perhelatan musik metal. Atmosfer dan unique visual pada opening menjadi sebuah pengalaman kolektif 500-an penonton yang “terpilih untuk dikutuk” di malam itu. 

08.00 WIB, teaser mulai diputar. Sayangnya ada sedikit gangguan audio sehingga penayangan teaser harus diulang. Munculah teaser yang menayangkan sejumlah cerita dari para Dewan Jenderal Rock in Solo. Gemuruh tepuk tangan penonton di akhir teaser gayung bersambut menyambut personil Down For Life dan Gondrong Gunarto Cs yang sejatinya berada dalam khasanah “metal”, DFL metal dalam hakikat genre musik, sedangkan Gondrong Gunarto dan gamelannya adalah metal dalam konteks organologinya. Suara gamelan sekaten rupanya menjadi pembuka nomor pertama, Yeni Arama melakukan suluk dan….. Boom! Diikuti oleh stlyle musik cadas DFL, diperkuat dengan nuansa kuning dari lampu panggung menerbangkan semangat penonton dalam lagu bertajuk Apokaliptika. Perpaduan antara distorsi dan kekuatan garap gamelan seakan mengamplifikasi energi dan kekuatan dari lagu yang dibawakan. Tak sadar penontonpun mulai mengangkat tangan, menganggukkan kepala  dengan badan tetap melekat pada kursi. Ada yang menarik dari DFL, dimana personelnya menggunakan batik coklat bercorak putih, berpadu dengan kostum yogo dari mas GonGun yang berbalut tenun. Di sebelah kiri panggung terdapat satu property besar berbentuk bulat berwarna silver yang rupanya menjadi salah satu medium eksploarsi dalam kolaborasi dengan seniman tari bernama Agus Mbendol.  Festival metal yang komponennya begitu sarat akan kelokalan, sarat akan ke-Solo-an. Gemuruh yang sangat mengguncang di akhir lagu dibarengi salam hangat dari Adji sang vokalis sekaligus salah satu founder dari Rock in Solo. Satu pertanyaan hangat yang cukup mencairkan suasana, “gimana rasanya nonton metal sambil duduk?”, “sabar, ya!”.

DFL dan GonGun Cs rupanya menjadi “pamurbo roso lan iromo” dalam setiap sajian lagu di edisi Apokaliptika ini. Sebelum memulai “gendhing” kedua, Adji kemudian mengajak salah satu jajaran vokalis metal terbaik di Kota Bengawan, ialah Pintus dari Bandoso, yang bersama-sama membawakan Tertikam Dari Belakang. Pintus dengan “crow style” dan teknik vokal metal yang berbeda dengan Adji, memberikan rasa yang lebih kaya. Visual background memperlihatkan sebuah animasi pisau yang menikam jantung memperkuat sinopsis yang disampaikan dalam lagu. Satu momen di tengah lagu, gamelan diberi waktu mengeluarkan kekuatan “metalnya”, sembari sesekali saling bersahutan di antara distorsi. Penonton tak berhenti merespon dengan anggukan, sesekali berteriak, mengayun tangan mengepal membentuk simbol metal.  Akhir lagu disambut tepuk tangan, diikuti ucapan “matur nuwun kagem panjenengan sedoyo” dari Pintus, sontak Adji sang vokalis merespon “Kok dadi ra sangar midun mu?, black metal kok maturnuwun,”. Sikap teposliro dari Pintus rupanya dalam sekejap menghilangkan kesan sangar dan mistik yang ia bangun di atas panggung sebelumnya. Ini memberikan pesan bahwa menjadi seorang musisi metal tidak berarti juga meninggalkan kultur tempat dia hidup, tempat dia lahir. Dan sepertinya semangat inilah yang hendak dimunculkan dalam konsep Apokaliptika di malam itu. Setelah itu, Adji kemudian juga meminta penonton untuk mengapresiasi Gondrong Gunarto yang telah berproses sangat panjang dengan DFL menyongsong Apokaliptika. 

BDN00229

Kolaborasi selanjutnya antara DFL X GonGun dengan salah satu seniman, artis, komedian yang cukup populer di Kota Bengawan, yakni Wawin Laura. Tidak seperti biasanya, Mas Wawin yang terkenal sering menggunakan konsep drag queen yang “konvensional”, kali ini ia menggunakan kostum penari Gandrung Banyuwangi. Oleh karen itu, GonGun Cs rupanya juga sudah siap di depan ricikan gamelan angklung Banyuwangen. Ada sebuah challenge bagi Wawin, yakni tidak boleh ndagel atau melucu di acara metal. Namun tetap saja ia melontarkan sebuah jokes yang cukup menggelitik, “penari gandrung ambune menyan, jare koyok pesarean..” katanya yang sontak membuat seluruh gedung tertawa. Tidak lama kemudian, tembangan dari Wawin Laura yang dilatari gamelan angklung menjadi pembuka nomor selanjutnya berjudul Liturgi Penyesatan. Setting  dan bentuk gamelan angklung dengan display di kiri panggung memberikan nuansa artistik yang kuat, sehingga tidak hanya permainan gamelan yang dinikmati, tetapi juga dinamika visual yang terlihat oleh penonton. DFL seperti biasanya masuk dengan style cadasnya, kemudian diikuti oleh adegan teatrikal dari Wawin sembari menyebut kata “gusti” secara berulang-ulang, disambut oleh vokal khas Banyuwangen dari Yeni Arama. Dan, tepuk tangan yang sangat riuh diberikan penonton di akhir lagu. 

Wawin kemudian langsung menuruni stage, Adji selanjutnya mem-present dan mengajak Lius dari Tendangan Badut untuk naik ke atas panggung, “inilah orang yang paling konsisten, Lius Tendangan Badut!”. Sepertinya kalimat itu mengandung arah sarkastik untuk menggoda Lius. Sontak Lius pun menaiki panggung sambil berkata, “Asu!”. Mulailah repertoar berikutnya yakni Pesta Partai Barbar. Seperti biasa gamelan menjadi pembuka, kali ini garapan ritmikal mirip iringan tari Topeng Ireng yang ditransmedium dalam gamelan Angklung seakan meningkatkan suasana dan energi positif. DFL menyambar dengan distorsinya, anggota DFL lainnya, Rio, Isa, Mamat, dan Latif sang drummer, ikut melebur dalam komposisi metal-gamelan. Pada beberapa momen, penulis terkadang merasa saat gamelan dan musik metal dimainkan bersama, seperti ada ketidakberimbangan suara, karena bunyi gamelan seakan kalah dentuman drum, distorsi, dan keseluruhan, namun, apakah ini karena penulis mendengar dari kursi paling belakang, atau persoalan teknis audio, who knows! Yang pasti inilah yang menjadikan Rock in Solo tahun ini begitu berbeda, begitu challenging! Kembali ke suasana di tengah Pesta Partai Barbar, anggukan penonton semakin selaras diikuti dengan visual background tangan mengepal dan visual karakter kepala kambing diperkuat dengan kepulan asap dari gun smoke yang membumbung secara vertikal. Sesi ini kemudian diakhir dengan sambat sang vokalis yang merasa kecapekan setelah 2 tahun gak pernah manggung. “ketoe nonton karo nyacat enak”, ujarnya.

Berikutnya DFL membawakan lagu yang dibuat pada album pertama dan mengajak personil formasi DFL awal yakni Imam Santoso, Sigit Pratama, Wahyu Jayadi, dan satu personil bernama Dodi –yang katanya SJW Pengging- tidak bisa hadir pada malam itu. Sebelum memulai Adji juga mengajak DD Crow seorang gitaris dari Kampung Sewu. Pada repertoar berjudul Menuju Matahari, Adji kemudian mengajak salah seorang penyanyi, seniman keroncong kebanggaan Kota Solo, yang baru saja merayakan 25 tahun kiprahnya, ya Endah Laras. Endah Laras tampil dengan gaya panggung biasanya, menggunakan kebaya dan juga selendang, namun yang tidak biasa adalah ia tidak membawa property atau alat musik cuk. Endah Laras naik, melempar pantun, memberikan beberapa lelucon yang mencairkan suasana. Biola khas Banyuwangen dengan garap gendang kempul yang mirip dengan nuansa pertunjukan jejer gandrung sangat kental sebagai pembuka. Endah Laras merespon dengan gerak-gerak tari, Yeni begitu menguatkan karakter dengan cengkok vokal khas Banyuwangen. Vokal gaya seriosa yang powerfull dari Endah Laras, bertemu dengan liukan cengkok khas Banyuwangi, penonton seperti tersihir, atau memang baru merasakan sensasi musikal yang demikian. Sisi kelembutan yang kemudian dipadukan dengan sisi “kekerasan”, titilaras ditambah distorsi mungkinkah tercipta the new kind of harmony? Di akhir sajian penonton disuguhkan dengan slide foto-foto sejumlah person yang telah ikut andil dalam sejarah “membesarkan” nama Rock in Solo. 

Sesi berikutnya tidak diisi dengan penampilan musik, melainkan sedikit icebreaking yang memberikan DFL dan GonGun Cs untuk “turun minum”. Adalah Si Doel Pecas Ndahe dan Titus, yang rupanya bertugas dalam sisi coolingdown para penonton. Beberapa gojekan dilontarkan, di awal-awal memang masih sedikit cringe. Namun, lambat laun beberapa lontaran mereka berhasil mengeluarkan tawa para penikmat musik “keras” ini. Beberapa jokes yang dilemparkan seperti merubah DFL sebagai “Dul For Life”, beberapa konsep dua kata lucu seperti, ndogmu gepok hingga cangkemu varises. Hadirnya Doel dan Titus sedikit melonggarkan ketegangan psikologis penonton yang sebelumnya diterjang harmoni metal vs gamelan. 

Di sesi kedua DFL X GonGun Cs juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lainnya seperti Kokom dari Paranoid Despair, membawakan lagu Mantra Bentala. Koko mini juga diketahui sebagai salah satu vokalis dengan kualitas Growl terbaik. Kemudian kolaborasi lainnya dengan vokalis metal yang cukup senior, yakni Djiwo dari Djiwoastro, yang juga merupakan vokalis dari band metal bernama Makam. Djiwo malam itu “ketiban sampur” untuk membawakan lagu Prosa Kesetaraan. Selanjutnya lagu One Town One Crown, DFL mengajak seorang vokalis musik Punk bernama Albi Moreno dari MCPR, dan di akhiri dengan penampilan seluruh bintang tamu membawakan bersama lagu pamungkas –bukan lagunya Pamungkas- berjudul Pasukan Babi Neraka. 

Di akhir helatan, Adji mengajak penonton untuk berdiri dan berfoto bersama. Sesi terakhir diikuti dengan visual Rojomolo – sebagai icon Rock in Solo-, jajaran Dewan Jenderal Rock in Solo kemudian naik panggung dan memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh penonton dan pendukung gelaran. Setelah itu, ditengah percakapan Dewan Jenderal kemudian juga mengundang Wali Kota Solo yang saat itu ikut menonton langsung untuk bergabung ke atas panggung, karena Rock in Solo tahun ini begitu di support oleh Gibran yang biasa dipanggil Mas Wali. Gibranpun memberikan statement bahwa Rock in Solo adalah jati diri Kota Solo dan berharap gelaran konser yang menggunakan standar prokes yang ketat tersebut bisa menjadi percontohan di daerah lainnya.

Di antara Percakapan Rock in Solo 2021

Solo sudah menyandang status sebagai Kota yang berada dalam PPKM level 1. Namun, bukan berarti masyarakat bisa bebas tidak mengindahkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan hariannya. Begitupun gelaran Rock in Solo 2021, seluruh panitia, penonton, dan juga tenaga pendukung lainnya diwajibkan melakukan swab sebelum memasuki gelanggang gedung, wajib vaksin, mengatur jarak tempat duduk, hingga pembatasan gedung yang hanya boleh digunakan dengan kapasitas 30%, yang artinya itu sekitar 500-600 orang. Di balik persoalan teknis sebuah event besar dengan prokes ketat, nampaknya ada beberapa perbincangan hangat lainnya yang melekat pada gelaran Rock in Solo seri Apokaliptika. Masyarakat musik skena Solo tentu erat kaitannya dengan budaya “rasan-rasan” dalam konteks apapun, bisa berbentuk positif, kritik, bahkan sekedar “maido” –indikator yang kurang sehat tapi sebenarnya sah-sah saja-. Penulis tertarik dengan beberapa hal yang diperbincangkan misalnya tentang konsep kolaborasi DFL dengan seniman-seniman Kota Solo yang notabene berbeda 180 derajat dengan habitus metal, tentang keterlibatan Mas Wali Kota Solo yang cukup intens, tentang konsep acara yang sangat “Solo sentris”, hingga persoalan kepemilikan dari event Rock in Solo yang kabarnya sudah jadi milik Hammersonic. 

BDN00154

Beberapa punggawa Rock in Solo melalui interview yang dilakukan oleh Pregnant Pause Records dan Perimetry Media mencoba menjawab berbagai macam “pertanyaan” publik di atas. Stephanus Adji dalam interview memberikan beberapa keterangannya. Terkait dengan persoalan konsep “pertunjukan” dan kenapa harus musisi dan seniman Solo saja yang terlibat, beliau menjawab bahwa konsep “pertunjukan” sebenarnya berkaitan erat dengan persoalan teknis sajian, penonton yang duduk tentunya akan menjadi terasa kurang apabila sajiannya hanya berupa musik metal. Alasan filosofisnya ialah bagaimana kawan-kawan di Rock in Solo ingin menjadi sebuah komunitas metal yang tetap kuat identitasnya, kuat akar budayanya sehingga sangat memungkinkan memberi kesempatan bila ingin mengeksplorasi metal head dengan kearifan lokal. Hal ini juga ingin memperlihatkan bahwa kesan kontemplatif dari karya-karya gamelan itu seyogyanya sama dengan konsep kontemplatif di karya-karya musik metal. Semangat rock menurut Adji juga sangat kuat dalam sejumlah garapan gamelan, walaupun bukan melalui medium distorsi. 

Adji juga menjelaskan terkait dengan kenapa ke-Solo-annya muncul banget sih? Bukannya Rock in Solo udah Nasional skalanya? Hal ini sebenarnya bukan ingin memperlihatkan semangat chauvinistik, akan tetapi karena ini adalah masih merupakan bagian atau step awal menuju Rock in Solo festival, sehingga semangat untuk “eling sangkan paran” sangatlah kuat. Bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa acara ini lahir di Kota Solo, sehingga kita merasa bangga atas apa yang telah dicapai di Solo, merasa bangga bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain. Kemudian Adji juga tidak menutup mata bahwa peran Gibran Rakabumingraka cukup sentral dalam membidani Rock in Solo tahun ini, bahkan mas Wali diibaratkan seperti NOS (nitrous oxide system) yang menjadi katalis suksesnya gelaran Apokaliptika. Hal lain, menjawab isu terkait kepemilikan Rock in Solo menurut Adji, memang dulu sempat bekerjasama dengan Hammersonic dan kepemilikannya oleh salah satu yang punya Hammersonic, namun sebelum gelaran Apokaliptika: Journey of Rock in Solo 2021, kepemilikan event ini sudah kembali ke teman-teman di Solo, termasuk persoalan legal formal dan sebagainya. 

Kita mestinya berharap kondisi pandemi terus membaik secara eksponensial, sehingga teman-teman bisa moshing bersamadi  Rock in Solo Festival tahun 2022. Rock in Solo pada akhirnya memperlihatkan sebuah fenomena yang sebenarnya menjadi trend yang cukup kuat di era post modern ini. Dimana pembongkaran sekat-sekat, ruang-ruang yang memenjara kreativitas sangat gencar dilakukan, semuanya menjadi borderless! Kita bisa melihat bagaimana keragaman bukan untuk dipertengkarkan, saling bertoleransi dalam bunyi, saling bertoleransi dalam komposisi, dan bertoleransi melalui frekuensi.