150579190_101775251928959_5810587715685951867_n
Menggaungkan (Ulang) Siklus Gema
Oleh: Denis Setiaji
Perimetalk 0,3
14 September 2021
Siklus Gema: Sebuah Perjalanan Musikal-Eksistensial

Bagi beberapa orang, diksi “siklus” sering digunakan dalam berbagai sisi kehidupan. Siklus secara umum dipersepsi sebagai suatu aktivitas daur, hal yang berulang, kardiak –dalam Kardiologi-, melekat sebagai nomina di pelbagai ragam peristiwa. Siklus Gema bukanlah sebuah judul lagu seperti Siklus Gila dari Marini Nainggolan, ataupun terminologi akademis di bidang fisika, melainkan titik penting perjalanan sebuah band asal Solo bernama Teori. Satu titik perjalanan Band pengusung alternative-pop-psychedelic ini terejawantahkan dalam sebuah konser virtual bertajuk Siklus Gema.

Sekitar 3 bulan yang lalu, tepatnya 2-3 Mei 2021, Teori sukses menyelenggarakan konser virtual pertamanya melalui kolaborasi Pregnant Pause Records dan Crossroad Records. Pandemi rupanya ikut menstimulasi Siklus Gema digelar melalui konsep virtual. Selama 2 hari, penonton online disuguhkan 8 repertoar lagu, 5 lagu diambil dari album bertajuk Tantrum dan Ibarat Hikayat, sedangkan 3 lainnya adalah lagu baru yang belum pernah dirilis. Set list Siklus Gema di antaranya, Surut, Luruh Siar, Jantung Ibu, Lovely Bones, Sesari Selagu, dan lagu baru berjudul Di Dekat Kejauhan, Di Ufuk Yang Sama, serta Seseorang Dalam Irisan. Selain siar atas lagu terbarunya, Siklus Gema sekaligus menjadi etalase, memperkenalkan “new person” yakni, Stefanus Murti Rio (keyboard) dan Alfian Adi (drum) menggantikan Donatian Argil alias Gege Saga (drum) dan Martin Sentana (gitar), selain itu Ichsandy Kurnia (vokal, gitar) dan Febri Rahardyan (Bass) still standing up sebagai personil lama. Selain 2 produser di atas, setidaknya 17 sponsor dan 5 media partner -dalam jejaring local pride- tercatat ikut mendukung dan mengamplifikasi helatan Siklus Gema pada waktu itu.

Siklus “Kebaruan”

Selain menjadi episode perjalanan musikal yang disyaratkan new release, Siklus Gema juga menjadi sebuah perjalanan eksistensial bagi Teori. Siklus Gema tidak hanya dimaknai sebagai hasil akhir dari sebuah pencapaian melainkan bagian dari proses Teori untuk selalu menjadi “ada”. Suatu filosofi penting, ritual berulang yang menetaskan pelbagai hal baru, pengetahuan, kesadaran, cara pandang, dan pengalaman, hingga idiom musikal pada aspek yang lebih mikro. Semua diekstraksi dalam tubuh musikal Teori. Penulis dalam hal ini menyebut ini sebagai “Siklus Berkebaruan”, dimana Teori tidak hanya melakukan ritual kreatif yang monoton-robotik, sehingga sanggup menghasilkan peningkatan kualitatif pada setiap perjalanannya. Mengapa demikian? karena Teori rupanya sangat terbuka dengan pemikiran setiap individu di dalamnya, alhasil band tersebut seolah menjadi wadah dalam freedom of (musical) expression seluruh anggotanya.

“Siklus gema bener-bener ngasih banyak hal positif. 1 bulan full karantina sama formasi baru. Jadi ngerti arah musikalnya Rio sama Alfian seperti apa. Kami berhasil bikin 4 lagu baru diproses otw Siklus Gema. 3 lagu dibawa ke repertoar konser. Obrolan macem-macem juga lahir, memang terlalu pagi buat ngomongin album penuh, tapi rencananya 2022 kami bakal fokus pembuatan album penuh”, begitulah kata Sandy sang vokalis. Teori berhasil mewujudkan Siklus Gema sebagai salah satu milestones dalam geliat pergerakannya.

Catatan Atas Gempita Skena

Konon, Siklus Gema digadang sebagai konser virtual berbayar pertama yang digelar di dalam lanskap pop-indie Solo Raya. Jika benar, konser ini boleh dikatakan menjadi salah satu referensi penting dalam pergerakan skena, terutama bagi yang ingin mengikuti jejak Teori dalam memproduksi gelaran konser virtual. Terlepas ini menjadi konser virtual berbayar perdana atau bukan, Siklus Gema menurut penulis telah menjadi salah satu role model. Siklus Gema bagaikan blue print bagi Teori. Siapapun –kelompok skena pop Solo Raya- yang hendak “following the way”, suka tidak suka harus mengakui bahwa Siklus Gema adalah salah satu referensi dan titik tolak idealnya.

Perhelatan yang cukup monumental bagi Teori dan skena pop-indie Solo di atas tentunya menghasilkan beberapa catatan, baik bagi Teori sebagai yang “empunya” hajat maupun untuk skena yang lebih luas. Bagi Teori, soalan teknikalitas produksi menjadi pengalaman yang tak terbayarkan oleh apapun. Advantage of experience di sini lebih berharga dan penting dari hanya sekedar invoice yang dihasilkan. Mengatur modal kapital, kultural, dan fisikal menjadi hal krusial dalam proses persiapan, konser, hingga pasca produksi. Karena rupanya setiap sekuen produksi harus di-treatment dengan full power effort. Alhasil, Siklus Gema tidak hanya memberikan dampak dalam kekaryaan, namun efek finansial pun berhasil dapatkan dalam gelaran yang diproduksi dengan waktu kurang dari satu setengah bulan ini. Obviously, menggaungkan Siklus Gema melihat Teori tumbuh dengan pakem baru, dunia baru, membawa angin positif, optimisme dan gempita dalam skena musik di Kota Bengawan.