2
​​Journey of The Winterman Mampir di Push The Button #6
Oleh: Denis Setiaji
5 Desember 2021

Kamis 2 Desember 2021, Kota Solo begitu cerah, tidak seperti biasanya setiap sore menjelang malam guyuran hujan menjadi rutinitas dalam beberapa pekan terakhir. Di hari dengan cuaca cukup bersahabat itu, kawula skena Kota Bengawan kedatangan sebuah tur perdana dari musisi Adi Widodo - Eks Stars and Rabbit- yang helat di Cinema Hall Kulonuwun Kopi Saka Omah Sinten. Push The Button #6 yang digagas Pregnant Pause Records dan juga Crossroads Records menjadi terminal ke 6 dari rangkaian tur bertajuk Journey of The Winterman. Gelaran pada kamis malam tersebut menghadirkan 2 “local hero” Solo sebagai band pembuka, ada Jungkat Jungkit dan Teori.

Panitia melakukan open gate sekitar jam 18.30 WIB, penonton mulai berdatangan, Albi Moreno sebagai MC membuka acara pada pukul 19.50 WIB, Said dan Adis beserta additional player Jungkat Jungkit naik panggung diikuti Rumi buah hati Adis-Said yang imut. Duo Family Band memulai panggung dengan drama-drama tipsi-tipsi karena sang putri ingin digendong ibunya, namun sang kakung berhasil “mengamankan” dan menenangkan Rumi. Alhasil Jungkat Jungkit siap memulai sesi penampilannya. Pada opening, Jungkat-jungkit membawakan lagu Kuku yang menjadi salah satu jajaran single terkuat dalam eksistensi Jungkat Jungkit. Suasana ceria berhasil dibangun, adalah Jonathan (Piano), Jojo (Bass) dan Faisal (Drum) sebagai pendukung, begitu terasa menguatkan performa Jungkat-Jungkit.  

Repertoar berikutnya ialah Lengkung Pelangi, penonton dibawa sedikit turun tempo, suasana mendayu, diikuti opening lagu dengan vokal Adis yang khas. Penonton sedikit tersihir dengan karakter vokal kuat Adis yang harmonis dalam kompisisi lagu. Berikutnya tempo dibuat lebih menurun dengan lagu Rain n Memories, suasana kontemplatif di balik hingar-bingar lampu pentas dan suasana temaram di setengah area Cinema Hall Kulonuwun Kopi Saka Omah Sinten. Lagu keempat penonton ditarik paksa untuk bertepuk tangan bersama melalui ritme blues yang disuguhkan dalam Home Sweet Home. Disela-sela lagu keempat penonton semakin memadati area Cinema Hall, menambah suasana malam semakin kuat dan intens. Ditutup dengan power clear falsetto yang mantap dari Adis.

Respect dari Jungkat Jungkit untuk semua pendukung acara, dilanjut personal skill session, yang dimulai dari Jojo, Jonathan, dan Faisal yang menyuguhkan aksen “buka sithik Josh”, diditutup dengan skill dari Said, super nice blues melodies!. Kekuatan Personality, Blues, Funk, Pop, menyatu bagai “umami” dalam sebuah hasil masakan. very tasty!. Penonton semakin padat, part scat Adis-Said menstimulan riuh, gemuruh kepuasan, gemuruh super maksimal di akhir lagu There is You in The Rain!

The next line up is, Teori! Glowor a.k.a Rio (sequencer) sedikit digoda MC mirip seperti penjaga warnet karena menghadap perangkat komputer beserta seabreg pretelan-nya, Teori melakukan check sound agak cukup alot di awal, dan applause untuk sesi Teori dimulai. Saat lagu pertama dikumandangkan, kita langsung bisa merasakan atmosfer kenyamanan musik yang berbeda dari penampil pembuka. Efek psycedhelic yang merasuk melalui tubuh dan indera para penonton. Beberapa kali penonton sing along pada bagian “…dan semua yang serupa di akhir masa telah kau….” dan juga bagian, “…dan seumpama segalanya telah berujung..”. Surut dari album Ibarat Hikayat menjadi menu pembuka yang kemudian di akhiri pelukan Among, putra sang vokalis. Sepertinya Push The Button edisi ini memang semacam family gigs yang sangat ramah anak.

Lagu kedua ialah Didekat Kejauhan, yang merupakan bagian dari album Siklus Gema dan akan segera rilis di tahun depan. Tempo musik lebih naik dengan rasa musikal elektronis dari Glowor yang cukup terasa di dalam aransemennya. Penonton sedikit hening dalam repertoar ini. Rupanya ada small pitchy tragedy, but no problem!

Selanjutnya penonton sudah siap dengan Lovely Bones di nomor ketiga. Audience seakan tenggelam dalam spirit musikal yang ditawarkan, bila Jungkat-jungkit menawarkan suasana pop blues akustik dan karakter vokal kuat dari Adis, Teori menyuguhkan sebuah pusaran psychedelic yang tak terbendung! Inilah definisi dari lain koki lain masakan! Lovely Bones adalah single yang ditulis Gege Saga dalam album Tantrum.

Ichsandy Nugraha rupanya menarik Nama Nugraha lainnya dari barisan penonton membawakan lagu Confused yang cukup ngebit yang menstimulan badan untuk melahapnya. Rupanya Jojo Nugraha melibas satu part dengan Rap yang membuat aransemen semakin menggila menyerbu pendengaran penonton sembari menikmati kopi susu. Super duper Gemuruh! Pelukan lagi dari Among. Lagu terakhir Sesari Selagu, everyone standup! Every body sing Aaaa. Aaaa, Aaaa, semua berdendang, menggerakan kaki dan tangan mengikuti alunan sang Teori!

It's time for the headliner, Adi Widodo! membawa formasi baru mulai dari kota keenam. Additional player baru adalah musisi yang diboyong dari Jogja. Additional keyboard sebelumnya adalah Wildan -kawan Adi satu studio dari Jakarta- terpaksa harus pulang ke ibukota karena suatu urusan. Formasi pemain dari Jogja yang dibawa pada tur sesi Kota Solo ini di antaranya, Penot (Gitar), Fandi (Drum), Yunar (Bass), dan Mahesa (Sequencer). Set 9 lagu yang disiapkan dimulai jam 21.22 WIB.

Happines, Time after Time, Kesepian, Jogja, Mr and Mrs Magic Mind, Di ketinggian, Worth it (Adis) , Stay on Me, Winterman.

Lagu pertama adalah Happiness. Suasana awal musik yang tenang dan mendayu, dengan balutan efek halus dari gitar elektrik diikuti synthetizer dan denting gitar, ditangkap oleh intro dengan nuansa bit yang bertolak belakang kesan dengan sebelumnya. Ada sedikit trouble di earphone monitor but no problem!, Lanjut ke lagu kedua berjudul Time After Time, tempo yang disajiakan sedikit menurun. Penonton mendengarkan dengan cukup tenang, menikmati santap malam musikal dan alunan Journey of The Winterman. Lagu kedua terlampau mulus dan selamat.

Lagu ketiga dibuka dengan syair yang lirih, lagu ini dinilai sangat bermakna bagi Adi, berjudul Kesepian. Adi bercerita bahwa tidak pernah memmbayangkan bahwa ia akan menjadi seperti adi yang seorang vokalis. Ia menceritakan juga bahwa tur ini dibagi ke dalam dua wilayah dan waktu, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di jawa tengah begitu menguras tenaga karena dalam sehari rupanya ia bisa manggung 2 kali.

Lagu keempat dengan judul Jogja, lagu personal tentang Adi, ia lahir di riau, tetapi Adi belajar berkesenian di Jogja, dan berjuang bersama sama dengan mentornya. Ini adalah dendang tentang hati adi dan jogja, . Lagu ini dibuka dengan petikan gitar Adi yang lembut dan nyaman didengarkan. Pada pertengahan lagu sempat dia nyeletuk “jazz, jazz chromatic!” karena sang gitaris tak sengaja memainkan chord tersebut dan terdengar aneh namun menarik, celotehan itu disambut hangat dengan tepuk tangan penonton yang kemeriahannya diamplifikasi oleh sing along .. Jogja.. Jogja.. Jogja…, sebuah interaksi musikal yang cukup asik dan elegan. Kemudian diakhiri dengan sarangae finger ala oppa korea dari Adi. Terima kasih pada pendukung dan media partner.

Lagu kelima, ada sedikit umpatan untuk mengungkapkan rasa sesal didasar hati. Ayo mengumpat berjamaah, semacam sekte sesat baru, genjrengan powerfull di awal, You Fuckin Lier!! Berjamaah yuk! Masyarakat skena sontak teriak “You Fuckin' Lier sedoyo!” Sedikit Serak di akhir menutup lagu Mr and Mrs Magic Mind. Ada celetukan yang cukup menggelitik dari penonton, kalau orang Madura bukan You Fucking Lier tapi You Fuckin Ta’ye!,

Lagu Selanjutya yang keenam Adis “digeret” untuk ngejam menyanyikan salah satu lagu Stars and Rabbit berjudul Worth It, digitarin langsung oleh Adi! Adis seekali bergoyang dan berkoreo menikmati aransemen lagunya. “Ingin banget punya fans militan kaya Kamtis, mungkin kalau aku namanya Winter People kali yak?” ucapnya di akhir lagu keenam. Berikutnya lagu yang diciptakan featuring fans bernama Fajar, anaknya baik dan penulis yang bagus dan suaranya bagus berbakat, punya cita-cita sama seperti 10 tahun aku. Judulnya “Di Ketinggian”. Nuansa lebih melow dari lagu sebelumnya, suasana yang diproduksi syntetizer cukup kuat. Penonton sepertinya lebih anteng. Genjrengan penutup stimulant applause hadir kembali di akhir lagu. “Akhir Desember ada rilisan, tapi kayaknya januarian deh” ucapnya.

Lagu selanjutnya Stay On Me, yang menurutnya lagu bapak-bapak banget, “lagu ini ku buat istri” ucapnya sambil malu-malu, …I Want Stay But I Cant… menjadi lirik yang cukup ditekankan dalam ingatan penonton, part gitar akustik dan bass bikin penonton anteng-anteng lumut, yang kemudian diakhiri lagi dengan solo gitar ala Adi Widodo. Lagu selanjutnya masih dengan nuansa yang tidak begitu berbeda awalan dengan Stay On Me!, mendayu, kalem, anteng, dan temani pendengaran penonton di setengah sebelas malam. Sepertiga penonton sudah mulai “mundur beksan”, tetapi lainnya masih stay dalam kondisi menikmati melodi demi melodi. Sepertinya Adi mulai terlihat agak lelah dan minum sejenak. Adi terlihat begitu berjuang untuk set turnya di kamis malam tanpo udan itu. Pesan-pesan di akhir lagu adalah “Sehat selalu semoga cepet normal, yang kerja di bidang seni bisa terus bergerak dan berkarya, bisa ngumpul tanpa ketakutan apapun. Tidak lupa menggalakan 5 M”.

Set terakhir tiada lain ialah Winterman –sedikit mengingatkan penulis pada Winterfell dalam serial Game of Throne-, nuansa lagu yang cukup melankolis merasuk dalam suasana Hall Cinema Kulonuwun yang suhu ruangnya kian memanas. Bagian tengah lagu ada pemberiaan aksen kuat pada vokal, diiringi kesan degup dari suara kick. “What kind of life you need!” Tempo lagu semakin naik, seakan ingin menuju puncak suasana, diakhiri Solo gitar Adi ,sebuah sungguh sebuah sajian yang effortfull!, kemudian diakhiri foto bersama penonton dan kru dan juga penudukung acara.

Solo merupakan Kota Keenam dari rangkaian tur solo perdana Adi Widodo. Setelah sebelumnya Kota Surabaya, Gresik, Mojokerto, Malang, Salatiga, dan dua kota terkahir yakni Magelang serta Yogyakarta.

Berikut ini testimoni Adi Widodo setelah mengakhiri setnya di Solo,

“Aku happy banget, sempet deg-degan setelah Sound Check, karena formasi baru mulai dari Solo sampai Jogja besok aku rasa masih fragille banget, additional keyboard harus pulang ke Jakarta, malam ini lebih Solo, audience Solo agak susah katanya, tapi ternyata asik banget, aku udah capek banget sebenernya, suara udah serak, jalan darat istirahat gak proper makan telat karena ngejar waktu, terlebih persiapan tour yang cuman 2 minggu doang”.

Selain itu Ichsandy (Teori) juga memberikan komentarnya, “Seru Alhamdulillah bisa gigs lagi tanpa ada halangan protokol kesehatan, semoga setelah ini di Solo bisa lancar lagi, temen-temen Solo bisa tur kemana-mana. Komentar lainnya ialah salah satu penonton bernama Zafran Mulia, “Seru banget ya, karena di Solo kemarin-kemarin jarang banget ada gigs kaya gini dan kebetulan beberapa bulan kebelakang ini PPKM udah dilonggarin dan disambut dengan baik para seniman lokal dengan ngadain gigs dan tur seperti mas Adi Widodo ini”.

Terakhir pesan Adi Widodo ialah terima kasih untuk semua yang sudah support, yang beli tiket, yang jajan yang merchandisenya. Dia berpesan apa yang kita punya maksimalkan, apa yang kita mau ayo lakukan, “pakailah prinsip nekat tapi presisi”!.