IMG_1798
Gelar Album Release Party, Latar Jembar “Menggoyang” Kawula Skena
Oleh: Denis Setiaji
23 Maret 2021

Orkes Kampung Latar Jembar menggelar Album Release Party sebagai bentuk selebrasi atas keberhasilannya merilis album pertama. Acara yang bertajuk “Pantang Pulang Sebelum Goyang” dihelat pada Februari 2022. Kulonuwun Kopi Cinema Hall menjadi saksi berkumpulnya penikmat skena untuk mencicipi hidangan panggung dari Latar Jembar. Sebuah pencapaian yang tidak mudah, melihat kisah orkes kampung asal Laweyan tersebut yang selama 8 tahun dengan langkah yang begitu dinamis telah sampai pada satu titik penting bagi perjalanannya.

Waktu menunjukan pukul 07.45, penonton undangan maupun berbayar mulai mengantri, berkerumun di depan meja registrasi, mengkonfirmasi reservasi dan mengisi daftar hadir. Terlihat beberapa yang sudah hadir sebelumnya menempati kursi tunggu yang berada di sekitar area Cinema Hall Kulonuwun Kopi. Beberapa saat kemudian panitia mempersilahkan penonton masuk. Satu demi satu, gerombol demi gerombol para apresiator acara ini mulai memadati Hall. Sedikit meleset dari jadwal yang dirilis, Arum (The Mudub) sebagai “pranotocoro” akhirnya menandai mulainya “pesta” sekitar pukul 08.20. Arum mulai mengarahkan penonton, membacakan larangan, dan sesekali melemparkan materi oneliner dalam kategori blue jokes yang efektif dalam mencairkan suasana.

Sekitar 30 orang penonton mulai memadati bagian depan panggung yang sudah disetting. MC kemudian memanggil sang penyaji utama sembari menggoda dengan perkataannya “hari ini tidak ada agenda Laweyan Melawan! Diawali prolog dari Arum, Eko Pethel sebagai front man memulai percakapan dengan menyapa penonton, bahwa dirinya tidak percaya setelah sewindu ngorkes akhirnya dapat menetaskan album pertama melalui “tangan dingin” Zen Al Ansory sebagai produser. Sang vokalis memulai dengan mengajak penonton untuk terlarut bersama menyatukan energi melalui lagu Indonesia Pusaka.

IMG_1603

Dok. Ardy Cahyo 21 Februari 2022


Irama chalte dari pengendang menandai lagu pertama Latar Jembar berjudul Mars. Suara tamborin memecah suasana, memperkuat irama kendang, penonton area depan panggung mulai bergerak sembari bersahutan dibeberapa bagian lagu, “digoyang-goyang disenggol-senggol!”. Lagu pertama selesai diikuti dengan sapaan hangat dari eko untuk kawan-kawan Pantomimers dari tlatah Yogyakarta Hadiningrat. Sesi pertama penonton disuguhkan repertoar Album Koyo-Koyo lainnya seperti, Laweyan, Lilo, dan Jatuh Cinta. Sesekali Eko dan kawan-kawan merespon penonton yang ikut memanaskan gelaran dari nomor ke nomor. Komposisi irama chalte, koplo, dan sesekali aksen senggakan lontarkan, “asik-asik joss!”

Sebelum sesi kedua mulai, Latar Jembar menampilkan sebuah narasi yang ditujukan untuk Iwit Tembonk, salah satu personil yang ikut berkeringat dalam setiap proses. Namun, Iwit mendahului kawan-kawan menuju keharibaan-Nya tahun lalu. Momen haru yang cukup kuat terselip di antara pesta malam itu. Lagu pertama berjudul Mas Noer dipersembahkan langsung untuk Iwit sang personil yang memorinya manunggal dalam setiap kalimat musikal Latar Jembar. Sesi kedua ini dirancang dengan konsep featuring. Eko Cs menggaet Kocol si vokalis –yang memakai kacamata hitam berbentuk segitiga- dari orkes suka-suka bernama Laju Memanas saat membawakan lagu Mas Noer. Lagu berakhir dengan teriakan vokalis Latar Jembar, “malam ini luar biawak!”

IMG_1649

Dok. Ardy Cahyo 21 Februari 2022

Lagu kedua Eko mengajak seorang pria paruh baya yang di-present sebagai perwakilan gangster dari Sriwedari bernama Slamet dari orkes Barbershop, untuk membawakan lagu Sego Liwet. Di tengah-tengah lagu, pak Slamet memberi kejutan dengan beberapa pantun jenakanya. Lepas dari Sego Liwet, lagu ketiga Latar Jembar in collaboration with Adis Jungkat Jungkit. “Mas aku kapan?” kata Adis dari bawah panggung, lagu ketiga diawali dengan gimmick antara Adis dan Eko yang mengundang tawa penonton. Bagaimana tidak, percakapan itu seolah-olah memperlihatkan kondisi seorang lelaki sedang mengajak wanita yang telah bersuami –kocak! Laminating menjadi lagu yang cukup gayeng di bawakan Latar Jembar dan Adis. Pesan Eko di akhir lagu untuk suami Adis, “Kalem, aku tuku ST gonanmu terus id!”.

Repertoar terakhir di bawakan oleh All Artist – kalau di konser dangdut koplo all artist biasanya di awal – berjudul Motor Silihan. Pak Slamet, Kocol, dan Adis kembali naik panggung, secara visual panggung terasa untel-untelan dan cukup terlihat “prokes”. Senggakan kembali berkumandang “Asik – asik, Hokya –Hokya, e, e, e, e, ya!” Pak Slamet begitu bersemangat dalam memainkan tamborin, Adis, “aku pengen numpak tong setan”, Kocol, “jaluk LC loro” lontaran-lontaran di tengah lagu merangsang reaksi-reaksi penonton. Penonton terhipnotis bergoyang mengikuti setiap irama. Lagu di akhiri dengan ucapan terima kasih Eko Cs pada pihak sponsor dan pendukung acara. Sebelum di tutup, candaan kocol memecah puncak acara, “iki maen neng gunung to cah? Iki kok pemain kendange ngembun? Sontak penonton melihat sang pemain kendang yang berada dalam kondisi gemrobyos penuh dengan peluh. 21.22, pesta telah usai, namun, hingar bingar perayaan ini menjadi jejak yang penting dalam perjalanan kekaryaan Latar Jembar. Konon Eko Pethel (vokal), Robing (gitar), Gandhos (kencrung), Bayu (mandolin), Fahmi (ketipung), dan Roni Rontok (bass) akan segera mengeluarkan single yang memuat kegelisahan mereka terhadap penggalan kisah pemberantasan korupsi di Indonesia, can’t wait to hear!