DSC07647 (1)
Proses Menarik Di Balik Konser di/batas(i) Vegetasi; Sebuah Perayaan Debut Album Cantigi Musik
Oleh: Rachel Sukma
25 Maret 2021

Semangat, dan juga mesam mesem, ekspresi itulah yang saya ingat dari dua pria berambut gelombang, di balik panggung malam sebelum pentas. Setelah dua tahun menanti, akhirnya jatuh lah tanggal 6 Maret 2022 menjadi tanggal bersejarah bagi kelompok musik Cantigi. Hari itu ialah hari perayaan debut album mereka bernama Batas Vegetasi. Vegetasi memiliki pengertian bertumbuh. Pengertian tersebut menafsirkan bahwa nama tersebut diperoleh sesuai dengan karakter dari dua personil yang memiliki jiwa bebas dan cinta akan petualangan. Selain sebagai sebuah perayaan, konser di/batas(i) vegetasi menjadi sebuah panggung Cantigi untuk menunjukan kepada seluruh pendengar, bahwa Batas Vegetasi berisi kisah perjalanan mereka. Gemerlap lighting, tepuk tangan, kompaknya nyanyian dan juga siulan serasa membayar rasa penantian ketika berproses. Sukses nya konser malam itu, terdapat hal-hal menarik, pelajaran baru, juga momen yang saya simpan selama saya berproses bersama Cantigi.

Sekilas Cerita Tentang Batas Vegetasi

Dua personil Cantigi yakni Alen Sahita dan Heri Susanto berangkat bermusik dari latar belakang kebebasan. Bertumbuh dari tongkrongan membuat keduanya mencintai kebersamaan di dalam proses. Begitu pula dengan terbentuknya Cantigi berawal dari sebuah kebersamaan saat pendakian gunung Slamet di tahun 2016. Sekilas cerita ketika sedang perjalanan menuju puncak, keduanya membicarakan banyak hal. Dari berbagai hal yang mereka bicarakan akhirnya melahirkan judul-judul lagu yang kini laris didengar pada platfom digital. Lagu-lagu tersebut meliputi Kabar Baik, Munajat, Bekonang, Seniman Kambuhan, dan juga Mengisahkan. Setelah lahirnya lagu-lagu tersebut keduanya menemukan nama album yang sesuai yaitu Batas Vegetasi ditahun 2019.

DSC03084

Dok. Joy El Java 15 pada Maret 2022

Meskipun sempat terhalang oleh kondisi pandemi, hal tersebut tidak membuat mereka merasa kalah. Hingga ditahun 2022 ini akhirnya mereka merayakan debut album mereka. Berawal dari dua personil Cantigi yang masing-masing bermain instrumen gitar dan vokal, maka pada konser di/batas(i) vegetasi ditambahkan instrumen dua violin, tiga backing vokal, satu flute, perkusi dan juga kontra bas sebagai additional. Keberanian mereka menggaet banyak musisi dari latar belakang yang berbeda dalam satu panggung, dan mampu memasak musik adalah hal yang layak diacungi jempol.

Kesan Pertama

Awal bulan Februari 2022, proses latihan menjadi kali pertama saya bertemu dengan personil Cantigi. Karena dengan jarak usia yang lumayan jauh, maka Mas Alen dan Mas Heri lah saya memanggilnya. Memangku alat musik kesayangan, berpenampilan santai dengan kaos oblong, rambut gondrong bergelombang, dan tutur bicara yang santai membuat saya menilai kedua orang personil Cantigi memang seorang seniman. Dalam latihan pertama itu saya juga bertemu dengan beberapa additional. Mas Anggara alias Mas Kecap sebagai partner saya bermain biola, Mas Juki sebagai arranger sekaligus pemain flute, serta tiga backing vokal yakni Natalia, Hana, dan juga Elsa. Di situ saya sedikit grogi karena harus berhadapan dengan personil Cantigi yang sebelumnya belum saling kenal.

DSC03120

Dok. Joy El Java 15 pada Maret 2022

Sebelum memulai, disitu lah Mas Alen sempat ngide, “Gimana kalau setelah konser kita naik gunung ?”. Dari pertanyaan tersebut saya merasakan pengenalan secara langsung bahwa Mas Alen memang memiliki jiwa petualangan atau kata santai nya suka mblayang. Main Hujan, menjadi lagu pertama yang kami ulik tanpa menggunakan notasi. Mengingat latar belakang saya terbiasa bermain orkestra dengan membaca notasi, maka terkhusus pada lagu ini saya harus beradaptasi dengan mengingat dan juga merasakan. Luput-luput dan juga lalen menjadi hal yang selalu saya ulang.Untungnya Mas Kecap adalah partner yang sabar mengingatkan saya.

Berbedanya Latar Belakang

Dipertemukan dengan Cantigi, saya merasa memasuki atmosfir baru, menyelami suatu genre yang belum pernah saya sentuh dan ulik bersama Choco (nama biola saya). Perpaduan genre folk dan Balada ditambah dengan sentuhan combo band, dan juga vokal grup menjadi musik yang tidak biasa di telinga saya. Sedikit mengingat ketika saya bermain di orkestra, memainkan dinamika, tempo, dan beberapa aspek lain dibantu oleh konduktor, maka berbeda ketika diatas panggung bersama Cantigi yang tanpa konduktor dan komunikasinya menggunakan telepati. Hal-hal lain yang saya rasa cukup kontras ialah pada jumlah pemain biola yang hanya dua, dan tentunya berbeda dengan orkestra yang cenderung banyak. Saya dan Mas Kecap mendapat challange untuk bisa membuat permainan biola seolah-olah lebih dari dua yakni dengan mengeluarkan harmoni.

Arransemen Yang Disajikan

Setiap kelompok musik tentunya tak luput dari genre yang membersamai. Begitu pula dengan Cantigi yang memiliki genre folk dan balada. Alasan didapat dari salah satu personil Cantigi yakni Mas Alen, genre ini dipilih karena sesuai dengan ciri khas dari Cantigi yang mana lagu-lagunya berisikan cerita perjalanan. Jika biasa nya Cantigi membawakan lagu lagunya sesuai dengan gaya mereka, maka sedikit berbeda pada sajian konser di/batas(i) vegetasi yang menghadirkan arransemen musik dengan sentuhan combo band, dua biola, dan juga tiga backing vokal. Reza Zulfikar atau akrab dipanggil Mas Juki inilah yang menjadi arranger pada penyajian musiknya. Selain mengisi instrumen flute, Mas Juki juga menuliskan notasi biola, flute, dan juga vokal grup.

DSC06601

Dok. Alvin Ardian pada 15 Maret 2022

Pengalaman saya sendiri ketika memainkan arransemen dari Mas Juki cukup merasa tertantang karena ada beberapa lagu yang ritmisnya sedikit rumit, tanda mula yang berbeda-beda, dan diperlukannya penginterpretasian dinamika yang baik. Dibalik kesulitan tersebut Mas Juki juga tentu tidak lepas setir begitu saja. Ketika ada bagian notasi yang saya merasa terlalu sulit, dia mampu menyederhanakan notasi itu tanpa mengurangi khas notasi sebelumnya. Namun seiring berjalannya waktu, kesulitan-kesulitan tersebut tidak terasa ketika saya mampu terbiasa, dan mampu merasakan atmosfir di dalam lagu.

Latihan Yang Gayeng

Latihan menjadi sebuah proses penting untuk menuju konser di/batas(i) vegetasi. Lokasi latihan yang diadakan di sanggar Naya Padmaruna ini berlangsung kurang lebih satu bulan. Meskipun proses latihan hanya berkisar selama satu bulan, namun 9 lagu yang dibawakan mampu disapu bersih. Bagi saya, latihan yang dijalani tidak menjenuhkan. Hal yang mampu membuat saya tidak jenuh ialah ketika lagu yang saya suka, diulik. Kebetulan lagu yang saya suka ialah Kasunyatan. Selain karena lirik yang menyayat, notasi biola pada lagu ini juga menantang karena terdapat modulasi (perubahan nada dasar), juga terdapat bagian ritmis seperenam belasan yang unik. Model latihan yang dilakukan juga berpengaruh. Dengan mengulik lagu dengan tempo nge beat lalu selanjutnya dengan lagu yang menyayat mampu mengasah penempatan emosi kami di dalam lagu. Mendekati hari H pula, kami biasa melakukan running dari urutan lagu pertama ke yang terakhir sebanyak dua kali, tanpa lupa diselingi istirahat. Di luar hal yang berbau musikalitas, ada yang membuat saya merasa latihan begitu gayeng yakni lelucon yang selalu dilontarkan Mas Kecap. Dengan sifatnya yang suka membicarakan hal-hal random, membuatnya suka memancing tawa di tengah latihan dan menghidupkan suasana.

Kesan Yang Membekas

“Apalagi cuma perasaan suka, tunggu saja kepadaku kau akan jatuh cinta”. Begitulah sepenggal lirik dari lagu berjudul Munajat. Lirik yang sempat dinyanyikan bersama itu menghadirkan rasa yang sendu di tengah pertunjukan. Berada di atas panggung yang diselubungi banyak penonton, mendengar penonton bernyanyi bersama, meriah nya tepukan tangan, dan juga seruan mereka memberikan rasa kepuasan. Berada di atas panggung, yang paling penting bukan lagi tentang tekhnik, betul atau tidaknya notasi yang dimainkan. Melainkan tentang bagaimana sebuah lagu mampu dibawakan dengan penuh rasa. Panggung dirasa menjadi sebuah tempat pelepasan, kebebasan berekspresi, juga bagaikan arena berdansa dengan bunyi bunyian.

DSC07680 (1)

Dok. Heyriyok pada 15 Maret 2022

Berproses hingga dan menghadapi hari puncak bersama Cantigi adalah kesempatan yang berharga bagi saya pribadi. Konser eksklusif di/batas(i) vegetasi ini lah yang menjadi panggung pertama saya bersama mereka. Bagi saya berproses bersama Cantigi memberikan pengalaman dan pelajaran baru yakni tidak hanya sekedar datang, latihan, lalu pulang. Di dalam berproses bersama Cantigi, saya menemukan hal lain selain terasahnya musikalitas, hal tersebut ialah rasa kekeluargaan. Belajar memahami dan membaur dengan orang-orang dengan berlatar belakang berbeda juga sebuah tantangan. Perasaan serupa saya rasa juga diraskan oleh addtional yang lain. Kami merasa dengan tumbuhnya rasa kekeluargaan, chemistry dalam bermusik menjadi jauh lebih hidup. Dengan begini, dalam memainkan lagu-lagu Cantigi sesuai dengan instrumen kami, terasa begitu menyenangkan, ringan, dan manteb.